CATATAN HARIAN-KU
DAWUH DAWUH BIS SIMA'
1.fikih hikmah(tasawuf)
fikih hukum
fikih nusantara/
2.analogi wewangian dengan rokok pada saat haji
3.ambil qoul mu'tamad saja dan jangan banyak hilah
4.1 orang punya 2 pendapat itu ma'lum
5.nalar sudah tidak menembus jika yang dawuh mbah yai
6.kecintaan kita pada Rasulullah harus mengalahkan kecinta'an kita pada orang lain
7.taalluq batin kepada orang yang hidup dengan orang yang mati
jangan translete polosan ambil saja maksud referensinya lalu dibahasakan sesuai pemahaman penggunaan bahasa kita
bagaimana para aktivis menganalogikan referensi dengan kasus yang sedang di bahas?
-mayoake duit kang ora payu
man sanna sayyiatan
analisis pemikiran syaikh nawawi pasal ma'asi qolby dalam syarah sullam taufiq dan realitanya bagi pencari ilmu
relasi makna diskon dan kaitannya dengan etika jual beli secara syariah
pengaruh ucapan dalam syariat
problematika adzan ketika di anggap berisik
jadilah pejuang andalan
anda akan berpredikat pejuang mujahidin fi sabilillah
--KH MAFTUH BASTHUL BIRRI
klan oesman mmq 24
problematika maksiat hati dan realitanya bagi pencari ilmu
problematika membaca al qur'an bagi santri
maktabah ainul jamiah univ eyes
Haritsah bin Wahb berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Maukah kalian aku beri tahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang kasar, rakus, dan sombong." (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjelaskan tentang bahayanya sifat sombong. Kesombongan merugikan pelakunya di dunia dan juga di akhirat kelak. Tiga perilaku buruk tersebut akan membawa manusia menjadi penghuni neraka.
Kesombongan hanya akan membawa kita pada kehancuran. Kita harus belajar dari kisah iblis. Iblis itu hebat. Namun, dia sombong dan angkuh; merasa diri lebih baik dari nabi Adam AS. Akhirnya, dia diusir dari surga-Nya Allah. Allah SWT berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (QS al-A’raf: 13).
Apabila kita diberikan kekayaan, misalnya, terkadang kita juga merasa hebat dari orang yang tak punya. Padahal, kekayaan dan kemiskinan sejatinya hanyalah ujian dari Allah untuk manusia, untuk melihat seberapa baik orang kaya dan seberapa sabar orang miskin. Oleh sebab itu, sungguh tak elok jika kita melukai hati manusia lain dengan kekayaan dan jabatan yang sejatinya adalah titipan. Rasulullah SAW bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya yang Muslim.” (HR Muslim).
Seorang mukmin sudah seharusnya membenamkan sifat sombong dan angkuh. Kita harus merendahkan hati agar tak dibenci Allah yang Mahasuci. Untuk mengatasi kesombongan dan keangkuhan, Imam al-Ghazali menyampaikan enam nasihat. Pertama, jika berjumpa dengan anak-anak, anggaplah bahwa anak-anak tersebut lebih mulia daripada kita karena mereka belum banyak melakukan dosa. Kedua, apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah ia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadah.
Ketiga, jika berjumpa dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena mereka telah mempelajari dan mengetahui banyak ilmu. Keempat, jika melihat orang bodoh, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita karena mereka melakukan dosa dalam kebodohan, sedangkan kita melakukan dosa dalam keadaan mengetahui. Kelima, apabila melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia karena mungkin suatu hari nanti dia akan bertobat atas kesalahannya. Keenam, apabila bertemu dengan orang kafir, katakan di dalam hati bahwa mungkin suatu hari nanti mereka akan mendapatkan hidayah dan memeluk Islam sehingga segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah.
Nasihat Imam al-Ghazali mengajarkan kita agar rendah hati dan tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Orang mukmin adalah mereka yang selalu rendah hati dan menghargai manusia lainnya. Allah SWT berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS al-Furqan:63). Wallahualam.
Komentar
Posting Komentar